Mahasiswa Asal Sulawesi Tenggara yang saat ini sementara melanjutkan Pendidikan di luar daerah benar benar merasakan beratnya dampak Pandemi Covid-19 di perantauan, Selain tidak bisa kembali kedaerah asal karena terhalang oleh penerapan Protokol Covid-19 yang begitu ketat, mereka juga harus mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari karena beberapa kota besar telah menerapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) hal itu di perparah karena keluarga di daerah yang menjadi tumpuan utama juga harus mengalami hal yang sama dengan penerapan Stay Home atau di #Rumah aja, bahkan banyak diantara keluarga Mahasiswa juga terpaksa tidak bekerja karena mengalami PHK oleh perusahaan tempat mereka bekerja karena terdampak Pandemi

Dengan begitu kompleksnya masalah yang dihadapi mahasiswa perantau di masa pandemi ini seharusnya bisa menggerakkan Nurani Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar peduli terhadap nasib anak anak mahasiswa, apalagi alokasi anggaran penanganan dampak bencana non alam (Covid19) yang dialokasikan Pemprov bersama DPRD Sultra melalui Revisi anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2020, sebesar 400 M. Sangat memungkinkan bagi pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara membantu meringankan beban yang di alami oleh mahasiswa perantau asal Sultra

Mewakili Mahasiswa perantau asal Sultra yang saat ini berada di Jakarta, Midul Makati mempertanyakan Nurani Gubenur Alimasi yang tidak punya kepedulian kepada Mahasiswa perantau asal sultra,

“Dimana sih Nurani dan rasa Empati Gubernur Ali Masi, kami ini adalah salah satu klaster yang mengalami dampak Pandemi Covid-19 bahkan dampak terbesar itu justru kami yang alami, sangat kompleks kondisi yang kami alami saat ini, bukan saja soal pembayaran UKT tapi untuk bertahan hidup saja di ibukota jakarta dimasa Pandemi ini kami begitu beratnya, Ujar Mahasiswa asal Konawe Selatan tersebut “

Apa pak Gubernur Ali Masi tidak mendengar atau melihat fakta di beberapa Provinsi contohnya Pemprov DKI Jakarta, Jateng, NTT, Papua, Bali, Riau dll yang meberikan bansos dalam Bentuk BLT maupun Sembako untuk mahasiswa mereka diperantauan, bahkan jika Gubernur punya rasa kemanusiaan contoh lah Bupati Konawe Utara H.Ruksamin, yang berani mengambil langkah Kemanusian untuk membantu mahasiswa konut sebesar Rp 500 Ribu setiap bulan dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai, (BLT) Musim pandemi Covid 19 adalah momentum solidaritas. Yang harus diungkapkan dalam kebijakan yang empatis. Kebijakan yang berangkat dari pemahaman yang cermat atas keadaan-keadaan nyata di lapangan sambung Mahasiswa Hukum tersebut”

justru yang kami lihat Gubernur Ali masi terkesan melepaskan tanggung jawabnya dengan melimpahkan tanggung jawab tersebut kepada Pemerintah provinsi Lainnya tempat mahasiswa kuliah seperti Press Rilis Jubir Gubernur Alimasi di salah satu Jejaring Sosial media.

Penulis/Koresponden : Midul Makati Editor : #Bang HPA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *